Pelaku Pembuat Konten Hoaks

Pelaku Pembuat Konten Hoaks

Pelaku Pembuat Konten Hoaks

Polri Ringkus 1 Pelaku Pembuat Konten Hoaks dan Hina Pemerintah – Direktorat Tindak Pidana Siber Badan Reserse Kriminal Polri menetapkan Alimudin Baharsyah sebagai tersangka yang diduga menghina pemerintah lewat unggahan berbau SARA melalui Facebook, Instagram, dan YouTube.

Kepala Sub Direktorat II Direktorat Tindak Pidana Siber Bareskrim Polri Komisaris Besar Himawan mengatakan, Alimudin ditangkap pada 3 April 2020 sekitar pukul 20.30 WIB.

“Yang bersangkutan sebelumnya sudah pernah dilaporkan ke polisi sejak 2018 terkait unggahan dan viralisasi konten yang mengandung unsur pidana. Sejak saat itu penyidik memantau dan ada laporan lagi pada 2019 dan 2020,” ujar Himawan dalam konferensi pers secara streaming pada Senin, 6 April 2020.

Himawan menjelaskan, Alimudin sengaja membuat alur cerita yang mengundang provokasi dan kemudian mengunggah ke media sosial. “Ada unsur diskriminasi ras dan etnis, berita kriminal bohong, penghinaan terhadap penguasa,” ucap dia. Dari hasil pemeriksaan sementara, Alimudin mengaku ingin menyebarluaskan paham yang ia yakini.

Akibat perbuatannya, Alimudin pun dijerat dengan Pasal UU ITE, Pasal Penghapusan Diskriminasi Ras dan etnis, dan Penghinaan Terhadap Penguasa.

Polisi menangkap seorang bernama Alimudin Baharsyah karena diduga telah menghina pemerintah lewat unggahannya di media sosial. Unggahan itu, dinilai melanggar sejumlah ketentuan yang dapat dijerat hukum pidana.

Kepala Bagian Penerangan Umum (Kabagpenum) Mabes Polri, Kombes Pol Asep Adi Saputra mengatakan bahwa berdasarkan catatan kepolisian, Alimudin sudah melakukan tindak kejahatan serupa selama beberapa kali.

“Sebelumnya menurut catatan kejahatan yang dilakukan saudara AL dengan jenis kejahatan yang sama terjadi sebelumnya juga telah dilaporkan di 2019 oleh penyidik Bareskrim,” kata Himawan saat konferensi pers di Mabes Polri, Jakarta, Senin (6/4).

Dalam kasus ini, Kepala Sub Direktorat II Direktorat Tindak Pidana Siber Bareskrim Polri Komisaris Besar Himawan menjelaskan bahwa penangkapan terhadap tersangka akhirnya dilakukan pada 3 April 2020, sekitar pukul 20.30 WIB.

Sementara itu, hingga pemeriksaan saat ini, tersangka diketahui ingin menyebarluaskan suatu paham yang Ia yakini. Namun, polisi masih melakukan pendalaman terhadap dugaan tersebut.

“Ada unsur diskriminasi ras dan etnis, berita bohong, penghinaan terhadap penguasa,” kata dia. Kendati demikian, Himawan tidak menerangkan secara rinci mengenai unggahan yang disebarkan dan dinilai telah melanggar hukum.

Ia hanya menjelaskan bahwa tersangka merupakan pemilik akun media sosial Alibaharsah007 dan akun Facebook Ali Baharsah, Instagram Ali Baharsah dan YouTube Ali Baharsah.

Saat ditangkap, Ali dibawa bersama dengan tiga orang rekan lainnya yang saat ini masih diperiksa sebagai saksi. Alimudin disebut telah menyebarkan informasi atau konten yang mengandung informasi yang dapat dijerat pidana.

“Tiga rekannya yang diamankan atas nama, HAF laki laki 39 tahun, AH laki laki 24 tahun dan AAP laki laki 20 tahun yang ini berada dalam satu TKP,” katanya.

Atas perbuatannya, Alimudin dipersangkakan melanggar pasal 28 ayat 2 undang undang ITE, Pasal penghapusan diskriminasi ras dan etnis, kemudian juga pasal 207 penghinaan terhadap penguasa dan badan umum.

Dari hasil forensik digital, penyidik pun menemukan sejumlah file video video yang mengandung unsur pornografi. “Sehingga yang bersangkutan kita tambahkan pasal berlapis berkaitan dengan undang undang pornografi,” pungkas dia.

Menurut Himawan, polisi telah melakukan monitoring terhadap akun media sosial milik tersangka sejak 2018. Namun, sampai dengan 2019, tersangka masih menyebarkan informasi informasi yang dapat dijerat pidana melalui media sosial.

Penyebaran informasi itupun, akhirnya berakhir pada laporan polisi terhadap dirinya yang akhirnya membuka penyidikan. “Dan 2020 pada bulan April juga dilaporkan di Bareskrim Polri berkaitan dengan kegiatan yang dilakukan oleh tersangka,” tambah dia.

“2019 itu dilakukan pembuatan laporan polisi oleh penyidik yang ternyata ini terus berlanjut sampai dengan 2020 Februari itu ada laporan dari seseorang di Polda Jawa Barat tentang kegiatan yang dilakukan oleh tersangka,” kata Himawan.

“Selain itu, kami juga menemukan beberapa file tentang video video yang mengandung pornografi sehingga ditambahkan pasal berlapis terkait Undang Undang Pornografi,” kata aplikasi indopoker 99.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *