Nasib Ekonomi RI Saat Penjualan Pakaian dan Alas Kaki Jeblok

Nasib Ekonomi RI Saat Penjualan Pakaian dan Alas Kaki Jeblok

Nasib Ekonomi RI Saat Penjualan Pakaian dan Alas Kaki Jeblok

Nasib Ekonomi RI Saat Penjualan Pakaian dan Alas Kaki Jeblok,- Pertumbuhan ekonomi nasional tumbuh 2,79 persen pada kuartal I 2020. Menurut Badan Pusat Statistik (BPS), realisasi pertumbuhan ekonomi itu terparah sejak 2001 silam atau pada periode kepemimpinan mantan Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur).

Berkaca pada data BPS, konsumsi rumah tangga yang berkontribusi besar terhadap perekonomian nasional hanya tumbuh 2,84 persen, terpaut jauh dari kuartal I 2019 sebesar 5,02 persen.

Padahal, porsi konsumsi rumah tangga terhadap Ekonomi RI mendominasi mencapai 58,14 persen. Kepala BPS Suhariyanto mengaku konsumsi rumah tangga melambat cukup dalam.

“Karena porsi dari konsumsi rumah tangga terhadap perekonomian sangat besar, tentu akan sangat mengerek ke bawah (pertumbuhan ekonomi),” ujarnya melalui video conference, Selasa (5/5).

Apa saja sih komponen dalam konsumsi rumah tangga?

Komponen konsumsi rumah tangga terdiri dari makanan dan minuman, selain restoran, yang menyumbang pertumbuhan 5,10 persen. Kemudian kesehatan dan pendidikan yang pertumbuhannya melesat 7,85 persen. Diikuti oleh perumahan dan perlengkapan rumah tangga 4,47 persen.

Lalu, komponen lainnya yang membukukan pertumbuhan 3,65 persen, restoran dan hotel 2,39 persen, termasuk dua komponen lain yang menyumbang pertumbuhan negatif, yaitu pakaian, alas kaki dan jasa perawatan yang tercatat minus 3,29 persen, dan transportasi dan komunikasi yang negatif 1,81 persen.

Menarik mengupas bagaimana pakaian dan alas kaki bisa berkontribusi negatif sehingga Produk Domestik Bruto (PDB) RI menyentuh level terendahnya dalam 19 tahun terakhir.

Berdasarkan survei Bank Indonesia (BI), proyeksi penjualan riil (IPR) pada Maret 2020 di posisi 217,8 atau turun 5,4 persen.

Survei itu menyebut kelompok sandang alias pakaian terkontraksi hingga minus 45,9 persen. Tren penjualan eceran pakaian memang terus lesu sejak awal tahun, yakni negatif 27,5 persen pada Januari dan negatif 40,4 persen pada Februari.

Survei BI turut mengungkap penurunan penjualan eceran, antara lain disebabkan oleh penurunan permintaan di tengah kurang lancarnya pasokan sebagai dampak pandemi virus corona.

Namun demikian, responden memperkirakan penjualan eceran pada Mei 2020 kembali menggeliat. Hal ini terlihat dari Indeks Ekspektasi Penjualan (IEP) periode Mei sebesar 146,7 yang didorong peningkatan permintaan jelang perayaan lebaran.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.