Belanda Mengembalikan Keris Diponegoro dan Pusaka Lain

Belanda Mengembalikan Keris Diponegoro dan Pusaka Lain

Belanda Mengembalikan Keris Diponegoro dan Pusaka Lain

Belanda Mengembalikan Keris Diponegoro dan Pusaka Lain,- Raja Belanda, Willem Alexander, peninggalan Pangeran Diponegoro ke Presiden Jokowi Widodo. Penyerahan itu dilakukan secara simbolik oleh Willem yang didampingi Ratu Maxima kepada Jokowi di Istana Kepresidenan Bogor, Jawa Barat, kemarin.

Keris yang diambil paksa ratusan tahun lalu itu ditemukan dalam koleksi nasional di Museum Volkenkunde, Leiden. Setelah kembali ke Indonesia, keris milik pemimpin Perang Jawa itu bakal disimpan di Museum Nasional, Jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta Pusat.

Meski telah diklarifikasi sebagai keris milik Pangeran Diponegoro, sejarawan Peter Carey menilai senjata itu bukanlah yang paling berharga dari sang empunya Taruhan Bola Online.

“Dia [Diponegoro] tidak pernah menyebutkannya dalam autobiografinya, Babad Diponegoro setebal 1.100 halaman itu,” kata Carey.

Lihat juga: Menlu: Keris yang Dikembalikan Belanda Asli Milik Diponegoro

Babad Diponegoro adalah naskah yang dibuat sendiri oleh sang pangeran kala diasingkan di Manado (Sulawesi Utara) pada 1832-1833. Naskah klasik yang ditulis dalam aksara Arab Pegon itu kemudian diakui UNESCO sebagai warisan ingatan dunia (memory of the world) pada 21 Juni 2013.

Menurut Peter Carey yang melakukan penelitian tersendiri atas Diponegoro, masih belum ada catatan yang menunjukkan keris itu sengaja diserahkan ke pihak Belanda oleh sang pangeran. Pasalnya, keris Kiai Nogo Siluman tidak termasuk dalam daftar benda pusaka seperti tombak dan belati berharga yang diserahkan pihak keluarga pascapenangkapan Diponegoro.

Apalagi, sambung Peter Carey, Gubernur Hindia Belanda Letnan Jendral Hendrik Merkus de Kock yang kala itu menangkap Diponegoro juga tidak merujuk secara detail soal keris tersebut dalam laporannya. Keris itu hanya diketahui diberikan Komandan Lapangan Belanda Jan-Baptist Cleerens ke Raja Willem I pada 11 Januari 1831. Namun, bagaimana keris itu bisa sampai ke tangan Cleerens, menurut Peter sampai saat ini masih misteri.

Peter menduga, keris itu bisa jatuh ke tangan Clereens karena ia adalah petugas yang bertugas membuka ‘negosiasi damai’ dengan Diponegoro pada Februari 1830 di Remokamal.

“Sangat mungkin bahwa keris pusaka itu diberikan untuk menyegel perjanjian antara Diponegoro dan Cleerens bahwa Belanda akan bernegosiasi dengan iktikad baik,” tuturnya.

Pusaka Lain yang Telah Dikembalikan Belanda

Keris Kiai Nogo Siluman bukanlah satu-satunya peninggalkan Diponegoro yang dikembalikan Belanda. Dari berbagai sumber dan pemberitaan, sebelum keris itu, tercatat ada tiga pusaka peninggalan Diponegoro yang dikembalikan Belanda ke Indonesia.

Pelana Kuda

Pusaka peninggalan Diponegoro lainnya yakni pelana kuda yang dirampas pasukan Belanda usai Pangeran Diponegoro disergap di Pegunungan Gowong, daerah Kedu oleh AV Michiels dan pasukannya pada 11 November 1829. Dalam peristiwa itu, Pangeran Diponegoro yang disergap terpaksa melompat dari kudanya ke lembah terdekat di bawah gelagah. Setelah itu, kuda yang ditunggangi Diponegoro, tombak, dan jubahnya dirampas Belanda.

Setelah dirampas, pelana kuda itu kemudian dibawa ke Belanda dan diserahkan kepada Raja Willem I. Pelana itu kemudian diserahkan kembali ke Indonesia oleh Ratu Juliana pada 1978 sebagai imbas kesepakatan budaya antara dua negara pada 1968. Kesepakatan budaya itu salah satu isinya adalah mengembalikan benda pusaka peninggalan Diponegoro ke Indonesia.

Tombak Kiai Rondhan

Tombak Kiai Rondhan diyakini sebagai salah satu pusaka kesayangan Diponegoro. Tombak ini dianggap memiliki daya magis dan dipercaya dapat memberikan perlindungan dan peringatan akan datangnya bahaya. Tombak ini ikut dilucuti pihak Belanda pada penyergapan di Gowong, 11 November 1829. Disebutkan hilangnya Tombak Kiai Rondhan ini mempengaruhi mental Diponegoro. Tombak ini kemudian diberikan kepada Raja Wilem I bersama pelana kuda sebagai rampasan perang. Benda pusaka ini baru dikembalikan ke Indonesia bersamaan dengan pelana kuda pada tahun 1978.

Tongkat Kanjeng Kiai Cokro

Tongkat Pusaka Kanjeng Kiai Tjokro dimiliki Pangeran Diponegoro pada 1815. Tongkat ini disebut sebagai pemberian seorang warga pribumi kepada sang pangeran. Tongkat pusaka sepanjang 153 centimeter yang terbuat dari kayu mahoni itu disebutkan selalu dibawa Diponegoro tiap kali berziarah ke tempat suci.

Namun, sebelum Diponegoro ditangkap Belanda, tongkat ini berada di tangan Pangeran Adipati Notoprojo, salah satu komandan perang Diponegoro yang juga cucu dari Nyi Ageng Serang. Pangeran Adipati kemudian menyerahkan tongkat itu kepada Gubernur Jendral Hindia Belanda ke-44 Jean Chretien Baud pada 1834.

Pusaka itu kemudian disimpan keluarga JC Baud di Belanda. Baru pada 2015, keluarga Baud lewat kakak beradil Michiel dan Erica Lucia Baud menyerahkannya kepada Menteri Pendidikan dan Kebudayaan saat itu, Anies Baswedan.

Penyerahan pusaka itu dilakukan bertepatan dengan pembukaan pameran “Aku Diponegoro” di Galeri Nasional Indonesia, Jakarta, pada 2015.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *