Biadab, Orang Gila Diperkosa Beramai-ramai di Sawah

Biadab, Orang Gila Diperkosa Beramai-ramai di Sawah

Biadab, Orang Gila Diperkosa Beramai-ramai di Sawah

20180427 20180427170300 2 pelaku perkosaan penumpang grab di tambora 001 nur habibie - Biadab, Orang Gila Diperkosa Beramai-ramai di Sawah

Biadab, Orang Gila Diperkosa Beramai-ramai di Sawah – Aksi biadab dilakukan sejumlah tukang becak di Kecamatan Kraksaan, Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur. Mereka dilaporkan memandikan seorang perempuan gila di sungai lalu diperkosa beramai-ramai di sawah.

“Cukup sering ditemui wanita tak waras yang telanjang. Kadang, orang gila itu kulitnya kuning dan berwajah cantik. Mereka kadang diculik oleh orang yang nafsunya sudah dirasuki setan. Orang gila diperkosa, tak habis pikir,” ujar saksi mata warga setempat bernama Maryon. Entah setan apa yang merasuki pikiran-pikiran para anak muda tersebut. Hingga tega memperkosa wanita yang tidak waras.

Rupanya insiden tersebut sudah diketahui oleh Kepala Dinas Sosial Kabupaten Probolinggo Mashur Efendi. Menurutnya, di Kecamatan Paiton terdapat 8 mantan PSK Dolly yang cantik-cantik namun mengalami gangguan jiwa dan berkeluyuran di jalanan. Untungnya, ujar Mashuri, seorang pengasuh pondok memerintahkan santrinya agar memandikan kedelapan wanita gila untuk ditampung sementara.

“Kiai tersebut rupanya sadar bahwa orang gila yang cukup menarik bisa mengundang pria hidung belang berpikir macam-macam. Mereka meski gila, juga manusia, jadi kami minta seluruh masyarakat agar memperlakukan mereka sebagaimana layaknya manusia,” pinta Mashuri, dilansir dari Tribunnews, Jumat (6/2) yang lalu.

Oleh karena itu, Mashuri meminta seluruh aparat Satpol PP yang bertugas di wilayah Kabupaten Probolinggo untuk langsung mengamankan wanita gila yang keluyuran untuk ditampung sementara di kantor Satpol PP. Dinas Sosial sendiri saat ini kebingungan mencarikan tempat penampungan sementara.

“Gara-gara itu, ruang kantor saya pernah menjadi tempat penampungan wanita gila. Akibatnya, barang-barang kocar-kacir dan pembalut bertebaran di sana-sini. Kami memang butuh tempat penampungan orang gila untuk sementara, di saat kami mendata mereka lalu mengirimnya ke keluarganya atau ke tempat orang gila di Kediri, Sidoarjo maupun Malang,” terang Mashuri.(*)